Jejak Langkah
Si konsultan berjalan, saya berjalan, kami keluar dari ruangan dingin penuh komputer itu. Sesekali kami bertemu-muka dengan pegawai berseragam hijau, perempuan atau pria, semuanya bersalaman dengan konsultan itu, bertanya kabar, saling mencitra dalam senyum. Mereka selalu berbicara agak membungkuk, tanda hormat. Saya tak bisa menghitung lagi, berapa orang di dalam gedung ini yang sebenarnya dikenal si konsultan itu. Jejak langkahnya saya perhatikan selalu penuh dengan kemenangan. Sebagai konsultan psikologi, dia terbiasa menebar kecemasan orang-orang, pegawai negeri yang atas maupun bawah; banyak yang merasa terancam dengan setumpuk kertas bercetak nilai perilaku dan kompetensi kerja dari si konsultan. Kalau Pak Haryono yang tadi, yang membantu tender, berapakah dia akan mendapatkan nilai kompetensi? Saya menebak-tebak dan mentok dengan khayalan.
“Kamu minggu ini akan di mana Dik?” Si konsultan bertanya.
“Tidak ada, Bu. Penelitian museum udah hampir selesai. Minggu ini kayaknya engga ada pertemuan.”
“Iya. Kamu di sini aja dulu ya, sama saya bantuin proyek barusan.”
Maksudnya proyek yang tadi baru di-tender, kesimpulan saya.
“Jadi, tender itu harus lima perusahaan Dik, minimalnya.”
“Oh, gitu ya, Bu.”
“Iya. Jadi, kemungkinan upload berkas tadi bakal diulang karena engga ada lima perusahaan yang ikut tender. Nah, selanjutnya kamu nanti bantuin aku jadi wakil dari perusahaan temenku, Dik. Kita maju sama temen-temen yang lain, beda-beda perusahaan.”
Saya diam saja, tak mengerti sama sekali. Kemudian, dia melanjutkan, “Kita akan tanding nanti, Dik, untuk tender dengan bendera masing-masing.”
Si konsultan menoleh.
“Kamu cocok, Dik, karena belum banyak orang yang hafal wajah kamu di sini.” Saya hanya mampu melihat punggung si konsultan hingga dia bertanya,
“Kenapa sih Dik kamu engga mau jadi tetap di sini? Kamu bisa dapat gaji dan insentif lho.”
Saya bergeming. Kami terus berjalan, menuruni gedung dengan elevator. Entah bagaimana saya enggan membuka mulut, terus berjalan. Tawaran kerja barusan tidak langsung saya pikirkan, tapi … akan diulang … harus ada 5 perusahaan … kamu maju … jadi salah satu wakil … berputar-putar di kepala saya. Maju ke mana? Perusahaan apa? Kenapa saya harus bertanding? Tiba-tiba saya sudah berada di mobil si konsultan itu, termenung-menung dengan pandangan keluar jendela. Gedung pemerintah yang kami kunjungi tadi semakin kecil. Ada perasaan yang membuat nafas saya memburu. Saya hampir mengeluarkannya keluar dari mulut, tapi, untungnya hanya tercatat dalam hati: R-E-K-A-Y-A-S-A!
Jadi, itu benar-benar jelas. Hal yang dikatakan si konsultan kepada saya barusan adalah upaya merekayasa tender. Saya dan beberapa orang lagi yang disebut si konsultan tadi sebagai “teman-teman kita” akan “bertanding”, agar kemenangan si konsultan terhadap tender itu sah secara prosedur.
Saya memijit-mijit kening. Saya sangat kebingungan. Kenapa sampai harus mengadakan rekayasa pertandingan seperti itu? Keinginan si konsultan? … Tapi, saya lebih berpikir inilah aturan main yang dibuat oleh mereka, pemegang-pemegang jabatan kenegaraan itu. Tidak ada tender, bahkan sebenarnya tidak ada proyek. Saya mengingat-ingat daftar proyek pemerintah di e procurement tadi; pembuatan papan reklame, parkir motor di kawasan gedung DPR, pengadaan barang … Apa sebenarnya itu semua? Semuanya hanya menguras-nguras uang hasil kerja keras rakyat tanpa pertanggungjawaban yang benar. Pak Haryono … Pak Haryono si makelar … nama itu tiba-tiba melintas di kepala saya.
Saya melihat ponsel, melihat berita, Suap Proyek Wisma Atlet … perusahaan fiksi PT Anak Negeri …. Saya terus membaca, almamater saya, kampus yang baru saja saya tinggalkan 4 bulan yang lalu, Universitas Negeri Jakarta … pengadaan laboratorium … sejumlah pejabat diindikasikan terkait … termasuk Pembantu Rektor III … Ada kenyataan yang mengerikan terbayang di hadapan saya. Suatu hari nanti, saya akan menjadi salah satu orang-orang yang diendus KPK.
***
Sejak SD, saya sudah menggemari band Rock bernama Slank. Salah satu lagu yang saya suka, “Entah Mau Jadi Apa.” Selama perjalanan itu saya coba gumamkan liriknya.
Ibuku ingin aku jadi dokter gigi..
Biar banyak pasien penghasilan pun tinggi..
Bapak inginku jadi priayi berdasi
Dapat tempat basah juga cari posisi..
Guruku ingin aku jadi politikus..
Atau jadi jaksa yang pinter bongkar kasus..
Kakek ingin aku jadi bandar beras..
Punya banyak pasar laba semakin keras..
Entah aku nanti jadi apa..?
Entah aku jadi apa saja
Asal.. kecil disuka dan muda terkenal..
Tua kaya raya mati masuk surga..
Dinilai tidak tepat oleh beberapa orang tua jika kita menolak kesempatan kerja, apalagi yang ada di depan mata. Saya anak muda, sebisa mungkin masih banyak kemampuan berusaha. Demikianlah, atas penawaran kerja menjadi pegawai tetap itu, saya harus mengingat jejak langkah seperti apa yang saya inginkan dulu. Saya berpikir, kemudian akhirnya menjawab, “Saya mau sekolah lagi, Bu.”
Satu bulan kemudian saya undur diri dari perusahaan tersebut.
Pages: 1 2




