Jejak Langkah
Januari-2012—Konsultan itu tak menginginkan saya beranjak pergi dari sisinya. Saya patuh, berharap bisa menolong dia sebisanya. Ia keluarkan semua berkas dan keperluan, kemudian mengetik dengan kecepatan penuh.
“Tolong lihat, Dik, kamu bacakan.”
Saya mencari berkas yang ia maksud dari setumpuk surat-surat perusahaan, kontrak pekerjaan, profil pegawai, dan laporan keuangan tahunan maupun pajak. Pagi itu kami sedang berada di salah satu instansi pemerintah di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk mengikuti tender sebuah proyek.
“Aduh, apa ya password-nya, lupa aku,” katanya.
Saya sebutkan kepadanya dengan keyakinan maksimal, sebab baru malam sebelumnya saya diberitahu sendiri olehnya. Aneh bukan buatan, dia memberikan nama pengguna dan kata sandi yang ia dapatkan untuk mengakses informasi-informasi tender di instansi pemerintah. Di sana ada berbagai macam informasi proyek dengan biaya berbilang ratusan hingga milyaran rupiah. Saya mengamati dari keseluruhan proyek milik pemerintah tersebut, jangka waktu kerjanya tak akan lebih lama dari satu tahun. Hampir semuanya bilangan bulan.
Pikir saya, “Asyik banget kalo dapet proyek dari pemerintah.” Konsultan di samping saya yang tadi panik mengingat kata sandi adalah seorang perempuan, Doktor Psikologi (50-an). Dia bekerja menilai dan mengevaluasi kompetensi pegawai sebuah instansi, baik swasta maupun pemerintah. Dalam berbagai surat kontrak yang ia berikan kepada saya satu malam sebelumnya untuk di-scan menjadi format digital, saya jadi tahu bahwa dia terbiasa mengerjakan proyek pemerintah dua tahun terakhir. Selain tender hari ini, saya telah membantunya di pekerjaan Kementrian Keuangan, Kementerian Agama, dan Lembaga Ketahanan Nasional selama kurang lebih satu bulan.
Saya masuk ketika semua data sudah siap untuk dibuatkan laporan akhir. Salah satunya, waktu itu Kementerian Agama meminta dibuatkan Kamus Kompetensi selama periode Oktober-Desember 2011. Begitu melihat kontrak kerjanya, saya tercengang bahwa ternyata nilai proyeknya mencapai Rp 1 Milyar! Saya bandingkan dengan proyek swasta yang si konsultan itu jalani selama periode 2008. Hasilnya, di sana ada informasi mengenai kontrak dengan lama kerja rata-rata 5 bulan lebih dengan biaya yang “hanya” puluhan juta rupiah. Terus terang saya tak mengerti. Apa yang sebenarnya menyebabkan proyek milik pemerintah itu berbiaya jauh lebih mahal padahal waktu kerjanya relatif lebih pendek daripada proyek milik swasta?
Setelah menuliskan kata sandi yang saya sebutkan, si konsultan itu mengucap lega, “Aah, untung ada kamu Dik! Bantu aku ya Dik.” Saya menganguk saja seperti biasanya.
Tugas dia selanjutnya adalah mengunggah (upload) segala keperluan yang disyaratkan untuk memenangi tender. Seluruh informasi perusahaannya kami masukan dengan teliti. Berulang kali dia kebingungan, apalagi saya. Tapi, sebenarnya pekerjaan ini tak lebih dari tugas anak sekarang yang ingin mendaftarkan dirinya kuliah via jaringan internet.
“Aku baru pertama kali nih, Dik, ngerjain e procurement ini,” ucap si konsultan.
“Sebelumnya emang siapa Bu yang ngerjain?”
“Pak Haryono (bukan nama sebenarnya), temen kita. Tapi kayak gini ini (e procurement) juga baru lho.”
“Oh ya.”
“Iya, makanya nih, aku butuh bantuan kamu Dik. Aku ini gaptek (gagap teknologi).”
Proses mengunggah berlangsung cepat sesuai dugaan saya. Berkali-kali si konsultan menelpon seseorang, berbicara panjang-lebar, dan saya kemudian tahu bahwa orang yang ia ajak bicara itu adalah Pak Haryono yang ia sebutkan tadi. Saya penasaran mengikuti obrolan mereka, terutama ketika siapa yang disebut Pak Haryono itu begitu antusias membantu dengan penuh tanggung jawab.
“Oh, belom toh, Mas? Tapi kok di sini aku sudah meng-upload lho. Kenapa bisa belum?” si konsultan bertanya ke Pak Haryono di teleponnya. Ada beberapa berkas yang belum masuk, demikian saya menangkap.
“Oh, gitu-gitu. Oke, makasih banyak, beribu-ribu terima kasih Maskuuuu ..” telepon ditutup.
“Yuk, Dik. Kita sudah selesai. Nanti berkas yang belum akan dibantu Pak Haryono,” katanya lagi.
Ketika kami sedang merapikan berkas-berkas yang sudah tak karuan letaknya, saya bertanya, “Pak Haryono itu siapa ya, Bu?”
Si konsultan memandang saya, tersenyum dan mengesankan kehangatan. “Dia orang sini, Dik. Teman kita.”
Saya membulatkan mulut, tak bersuara. Kemudian, dengan hati-hati bertanya sekali lagi.
“Kalau udah diurus orang sini, tenang dong kita ya, Bu?”
Dia mengangguk sambil terus menutup laptop-nya. Pura-pura saya juga menyibukkan diri agar terkesan pertanyaan barusan cuma selewat saja. Saya membungkuk, mencabut hard disk portable, dan agak terkejut begitu melihat sebuah benda di atas CPU milik ruang tender instansi pemerintah ini; joystik game! Siapa yang… batin saya, kok sempat-sempatnya bawa beginian ke tempat kerja?
“Perusahaan kita udah kuat di sini sebelumnya, Dik. Jadi, tenang saja sebenarnya,” si konsultan mengusik perhatian saya kepada joystik game di atas CPU.
Lagi-lagi saya cuma, “Oh.”
Pages: 1 2




