Menu

Sidney Sheldon: Kita Tak Bisa Membodohi Pembaca

June 22, 2012 |  by  |  Review, Tips  |  ,  |  Share

Sidney Sheldon

Menjual puisinya seharga sepuluh dollar ketika berumur sepuluh tahun, Sidney Sheldon adalah ahli cerita yang telah menjual lebih dari 300 juta kopi novelnya ke seluruh dunia. Apa saja kiatnya dalam menulis?

 

“Jika aku menulis sebuah tempat, aku pernah ke sana. Jika aku menulis tentang makanan di Indonesia, aku pernah makan di restoran itu. Menurutku kita tak bisa membodohi pembaca,” terang Sidney di sebuah wawancara pada tahun 1987.

Dua tahun sebelumnya, 1985, Sidney telah merilis If Tomorrow Comes (Indonesia: Bila Esok Tiba), novel ketujuhnya yang mengisahkan petualangan wanita pemberani dan cerdik, Tracey Whitney, ke berbagai negara. Tracey Whitney adalah sosok wanita yang memutuskan untuk mencuri harta orang-orang kaya akibat kekecewaan masa lalunya. Pada saat selesai menjalankan misi pencurian berlian di Belanda, Tracey Whitney menikmati dua puluh dua macam hidangan di restoran Bali Indonesia di sana.

Pada novel selanjutnya, Windmils of the Gods, yang diterbitkan pada tahun 1987, ia menceritakan tentang CIA. Oleh karena itu, Sidney menemui seorang pendiri CIA, Richard Helms, secara personal. Dia juga mengunjungi Argentina dan Rumania di mana salah satu tokoh utama novelnya tinggal di sana.

“Novelis berkelana ke seluruh dunia melakukan riset, menemui orang-orang yang menarik, dan pergi ke tempat-tempat yang menarik. Jika orang-orang terpengaruh oleh sesuatu yang kau tulis, mereka akan memberitahumu. Terkadang aku mendapatkan surat yang sangat emosional,” tulis Sidney dalam The Other Side of Me-Memoar Sidney Sheldon. “Dalam Rage of Angels, aku membiarkan seorang anak kecil meninggal dan aku mulai menerima surat bernada benci. Seorang wanita menyuratiku dari timur, memberiku nomor telepon dan berkata, “Teleponlah aku. Aku tidak bisa tidur. Mengapa kau biarkan dia mati?’”

Sidney Sheldon memiliki teknik yang cukup sederhana dalam menulis novel-novelnya. “Aku menulis dengan cara yang tidak biasa. Aku menyuruh seorang sekretaris (untuk menulis),” jelasnya seperti dikutip oleh www.bookbrowse.com. “Ketika aku mulai menulis cerita, aku tak memiliki plot, hanya karakter. Seperti yang pernah kukatakan, seorang tokoh kuhidupkan, tokoh lain datang, dan mereka pun mulai mengambil alih. Mereka benar-benar menulis kisah mereka untukku, itu sungguh luar biasa!”

Sidney Sheldon lahir di Chicago, Illinois, 11 Februari 1917. Selain menulis 18 novel yang sukses terjual ke 108 negara, ia juga pernah menulis naskah drama Broadway, serta pengarang skenario TV dan Hollywood. Sebagian dari karya-karya TV-nya yang paling terkenal adalah I Dream of Jeannie (1965-1970) dan The Patty Duke Show (1963-1966). Ketika ia berusia 50 tahun, ia mulai menulis novel-novelnya yang laris, seperti Master of the Game (1982), The Other Side of Midnight (1973), dan Rage of Angels (1980).

Sepanjang hidupnya, Sheldon begitu mencintai profesinya sebagai novelis. “Saya suka menulis buku,” ia pernah berkata. “Film adalah sebuah medium kerja sama, dan setiap orang menebak-nebak kita. Bila kita menulis novel, kita bekerja sendirian. Ini adalah kemerdekaan yang tidak ada dalam medium mana pun.”

Sheldon meninggal karena komplikasi yang muncul akibat pneumonia (radang paru-paru) pada 30 Januari 2007

 


Leave a Reply