Menu
Haru Biru

Y Generation

Haru Biru “Generasi Drive Thru”

July 26, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |   |  Share

Y Generation

Seorang ibu pernah mengeluh kepada saya. Ia mengatakan, “Repot kalau komunikasi make smartphone sama anak muda zaman sekarang. Penyampaiannya enggak efisien!” Dia perempuan berusia menjelang 50, dan cukup frustasi menghadapi perilaku anak laki-lakinya yang kebetulan jarang di rumah karena sedang kos—mahasiswa teknik industri tahun ketiga di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ibu itu sendiri tinggal di Jakarta.

“Kalau aku tanya, misalnya, waktu itu masalah biaya kuliah dan kos dia, jawabnya sampai tiga kali,” ujarnya lagi. Dia berkomunikasi dengan anaknya itu melalui BlackBerry Massenger. “Pertama dia jawab, ‘Akhir bulan ini, Ma.’ Gak berapa lama kemudian, masuk lagi, ‘Tapi temen-temen sih udah ada yang bayaran.’ Terus masuk lagi, ‘Nanti aku liat lagi deh pengumumannya.’”

Ia pun menggelengkan kepala. “Apa-apaan itu? Aku enggak ngerti gimana cara anak muda sekarang berkomunikasi—yang katanya hidup di zaman mudah berkomunikasi dari mana dan kapan aja—tapi mereka malah enggak efisien dalam berkomunikasi, menurutku. Dulu waktu zaman SMS, aku enggak gitu-gitu amat. Aku selalu tulis dulu semua yang mau aku sampaikan, aku baca berkali-kali, baru kalo udah pas, dikirim. Sampai sekarang aku seperti itu, enggak pernah berkomunikasi sepotong-sepotong tuh.”

Meski sedang membicarakan anaknya, saya tersadar bahwa saya pun termasuk di dalamnya. Mudah diketahui bahwa antara anaknya dan saya tidak terpaut rentang usia yang jauh. Kami sama-sama generasi “Y”, sebuah generasi yang begitu larutnya dengan penggunaan teknologi komunikasi bernama internet, dan kini gadget-gadget. Saya sendiri sering membayangkan bahwa kita adalah generasi “ngos-ngosan”, karena berkali-kali mengejar ambisi untuk menjadi yang terbaru di tengah persaingan hidup yang semakin ketat. Kita juga bisa diistilahkan sebagai generasi “drive-thru”, asal cepat dan kenyang, padahal esensi yang sebenarnya, yaitu sehat dan bergizi, jarang sekali dihiraukan.

Persoalan di atas nyatanya bukan hanya sekedar masalah komunikasi antar anak dan ibu, melainkan juga gambaran bagaimana telah lahir sebuah generasi yang cenderung ingin serba cepat, namun kehilangan makna dari realitas kehidupannya.

 

Tsunami Informasi dan Kedangkalan Kita

Tak bisa disangkal bagaimana anak muda zaman sekarang sudah terbiasa hidup di tengah rimba informasi melalui media dari berbagai platform, terutama internet. Setelah internet semakin tak terbendung menjangkau setiap sudut dunia, negara super power seperti AS pun mengumumkan penurunan tiras surat kabar. Kedatangan internet langsung diperhatikan dari berbagai macam sudut pandang. Setidaknya sejak diperkenalkan konsep web generasi kedua (web 2.0, sebuah konsep yang menawarkan kendali personal, user centered-design), sebagian besar orang telah memandang internet sebagai media paling praktis, ekonomis, dan tentu saja demokratis dibandingkan dengan platform yang lain. Ketika surat kabar, radio, majalah, ataupun TV membatasi peserta di dalam dirinya, internet justru hampir-hampir membuat setiap orang kehilangan ruang dan waktu. Dengan inisiatifnya sendiri, orang-orang kini dapat memproduksi konten informasi sendiri melalui internet, baik itu tulisan, foto, dan atau video. Internet segera menjadi peluang bagi siapapun yang selama ini kekurangan ruang dan waktu dalam mengekspresikan diri. Oleh sebab itu, tak aneh jika di dalam internet terjadi tsunami informasi dari mana dan kapan pun kita mengaksesnya.

Informasi datang silih berganti, begitu cepat dan banyak di dalam internet. Buntutnya kita jadi terbawa untuk selalu menjadi yang “ter-update”, terlebih lagi ketika ketergopoh-gopohan itu dikonfirmasi dengan pertanyaan setiap detiknya yang kurang-lebih bertuliskan: “What’s on your mind?” dari aplikasi social networking di dalam gadget-gadget kita. Kita bukan lagi berpikir apa yang penting untuk disampaikan, namun segala ekspresi keluar begitu saja mengikuti hasrat. Kalau perlu, buang air pun menjadi pengalaman yang patut disebarkan kepada orang lain. Kejadian ini akhirnya berdampak pada diri kita yang seolah memiliki kesibukan yang tak terperikan. Bahkan, waktu tidur jadi berkurang karena terus diradang rasa penasaran akan sesuatu yang baru, atau membayangkan bahwa diri kita tak pernah lagi melewatkan malam-malam penuh keheningan. Dunia ini begitu semarak, riuh, dan penuh perayaan di dalam virtualitas internet. Dan kita pun setidaknya terobsesi merubah gaya hidup menjadi serba digital, mengonsumsi tidak lebih dari informasi-informasi yang datang silih berganti dari internet sambil jarang sekali mencernanya lebih jauh. Kita berpikir bahwa hiperteks lebih fleksibel dan menganggap teks di media cetak itu kuno alias ketinggalan zaman.

Namun, peristiwa manusia yang terbiasa mengonsumsi hiperteks ini seringkali tak disadari membawa kedangkalan pada dirinya sendiri. Satu penelitian pernah dilakukan oleh Nicholas Carr lewat bukunya, The Shallow (2010), yang menjelaskan bagaimana internet—melalui hiperteks—merubah cara kita berpikir, membaca, dan mengingat. Hal yang paling menonjol dari penelitiannya adalah mengenai perbandingan antara kebiasaan membaca di kalangan mahasiswa. Carr menyimpulkan dua cara, yakni membaca linier dan scrolling. Membaca linier biasanya kita lakukan ketika membaca teks, misalnya di buku, majalah, dan surat kabar. Sedangkan membaca scrolling biasa kita lakukan ketika membaca di internet, di mana hiperteks menawarkan berbagai tautan di sejumlah kata dan paragrafnya. Hasilnya, Carr mendapati bahwa mahasiswa memiliki kemampuan menyerap informasi yang lebih baik dengan membaca secara linier. Tautan-tautan yang terdapat di dalam hiperteks justru membuat banyak mahasiswa sering berpindah-pindah konsentrasi dan akhirnya kesulitan menyerap informasi yang ada. Lagipula, sesuai namanya, membaca hiperteks membutuhkan hiper-energi yang membuat mahasiswa lebih cepat mengalami keletihan ketika membaca. Oleh sebab itu, daya analisa yang mendalam hanya mungkin dilakukan secara menyeluruh dengan cara membaca linier.

Kita pun akhirnya bisa menyadari, betapa selama ini internet membuat kita menjadi serba tahu, namun ternyata tak lebih dari hanya berada di permukaan saja. Informasi tertangkap, tapi lewat begitu saja karena segera digantikan dengan yang baru. Pada akhirnya, kita hanya terombang-ambing, dan kesulitan menentukan sikap, apalagi untuk memiliki keterampilan yang hakikat. Semua informasi tertangkap tapi jarang menjadi pengetahuan yang utuh. Inilah kedangkalan yang sedang kita rayakan bersama-sama.

Dampak kedangkalan itu mudah terlihat dari, misalnya, kualitas acara TV kita. Pelawak dianggap berbakat karena kepiawaiannya berceplas-ceplos ria yang seringkali jarang dipikirkan terlebih dahulu olehnya—baru terpikirkan ketika dianggap menyinggung SARA. Musik seolah tak mampu lagi bermetamorfosis dari tema-tema cinta yang klise, begitu pula tontonan yang lagi-lagi hanya menyuguhkan sinetron, horror, dan seks. Bahkan, kita mulai terbiasa mempercayai realitas, padahal itu hanyalah gosip yang disulam menjadi opini. Kita hanya memperolok pencitraan politikus tapi berbondong-bondong menyambut “serangan fajar”, yang dengan kata lain, satu paketlah kita sebagai orang yang “aji mumpung” tanpa lagi memikirkan keperluan-keperluan masa depan. Tak perlu sikap, yang penting sikat.

Kedangkalan membuat kita jadi tak terbiasa melakukan renungan, analisa, atau evaluasi terhadap realitas di kehidupan sehari-hari. Lebih parah, kedangkalan mencabut diri kita dari realitas karena menganggap bahwa yang virtual (citra yang ditangkap sepotong-sepotong) itulah yang sesungguhnya. Tren K-Pop, misalnya, bisa kita lihat sebagai peristiwa dimana suatu hal yang virtual menggantikan realitas kaum remaja kebanyakan. K-Pop telah mengganti tubuh maupun keseluruhan jiwa mereka dengan cepat. Mereka tak lagi bersikap kritis, mengevaluasi tren di hadapannya, atau membuat sesuatu yang baru, akan tetapi lebih memilih menyuburkan imajinasi akan K-Pop ke dalam dirinya. Akhirnya pasar menjadi ruang pengharapan, memberikan kemungkinan paling masuk akal untuk mengaktualisasikan diri mereka. Pada awalnya mereka hanya mengaggumi, tapi tiba-tiba menjadi kemasan itu sendiri. Identitas pun lenyap.

Kedangkalan membuat kita terbiasa mengutuk kesumpekan hidup, tapi dengan sendirinya menciptakan kesumpekan yang baru. Tidak ada yang namanya penyegaran. Semuanya menjadi banal, kalau mau meminjam sepotong lirik Efek Rumah Kaca. Lalu, apa yang bisa diharapkan lagi dari anak muda seperti kita? Bisakah kita bayangkan betapa kecerdasan anak muda bernama Sukarno, Hatta, atau Sjahrir yang merumuskan identitas kebangsaan itu tidak lain dihasilkan melalui perenungan yang panjang dan mendalam dari dalam penjara dan pengasingan? Sedangkan kini kita berasyik-masuk dengan hiruk-pikuk ekspresi dan informasi yang terpotong-potong di dalam sebuah aplikasi gadget, yang akhirnya tak menjadi pengetahuan utuh maupun karya sedikit pun. Bagaimana mungkin kita mengharapkan suatu kesegaran yang baru?

Kita ini banyak tahu, tapi miskin gagasan. Kita banyak bicara, tapi miskin berkarya. Padahal anak muda yang seperti ditunjukkan oleh diri Bung Karno adalah; banyak bicara, banyak gagasan, dan banyak karya. Nah, sekarang, bisakah kita?


Leave a Reply