Menu

Paul Mccartney, Lagu Cinta Melulu

August 8, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |  ,  |  Share

1966. Dikisahkan bahwa Paul Mccartney merasa gerah dengan bibinya yang terus saja mengoceh tentang lagu-lagu cinta yang telah ia gubah. “Mengapa kau tidak pernah menulis tentang seekor kuda, atau sebuah konferensi di musim panas, atau sesuatu yang menarik?”

Mccartney jelas merasa kesal—dan karenanya ia langsung membalas, “Baik, Bibi Lil. Akan kutunjukkan padamu.”

Tak lama kemudian dia segera menggubah sebuah lagu yang tidak hanya bercerita tentang tema di luar cinta, tapi juga membuat orang-orang pada akhirnya berpendapat; The Beatles lama sudah digantikan The Beatles baru!

Ladies and Gentleman, please welcome, “Paperback Writer.”

 

Jimmi Savile, seorang Disc Jockey, presenter yang amat kesohor dengan program Jim’ll Fix It di BBC Television berkata, “Dengan ingatan yang sangat kuat di kepalanya, dia berjalan berkeliling di kamarnya dan memperhatikan Ringo yang waktu itu sedang membaca sebuah buku. Dia melihatnya, kemudian mengumumkan bahwa dia akan menulis sebuah lagu tentang buku.”

Inspirasi awal itu belumlah sepenuhnya matang. Alih-alih menulis sebuah lagu tentang buku, Mccartney malah menceritakan sebaliknya. Dia bukan menceritakan buku. Dia menceritakan penulisnya.

Mccartney menulis kalimat pertama yang berbunyi demikian:

Dear Sir or Madam, will you read my book? It took me years to write, will you take a look? Dan kalimat itu segera dihubungkan dengan, It’s based on a novel by a man named Lear. And I need a job so I want to be a paperback writer… Paperback writer! menjadi satu bait pembuka dalam Paperback Writer.

 

Siapakah Paperback Writer?

Ada beberapa pendapat tentang “It’s based on a novel by a man named Lear” yang ditulis oleh Paul Mccartney tersebut. Salah satunya mengatakan bahwa lirik itu mengacu pada Edwar Lear, seorang pelukis, juga penulis yang “menulis banyak puisi tak berguna” namun amat digemari oleh John Lennon. Pendapat yang mengatakan ini cukup banyak, meskipun segera dibantah yang lain karena Edward Lear sendiri sebenarnya sama sekali tak pernah menulis novel.

Dalam wawancara 2007, Mccartney mengulangi pernyataan lain. Ia mengatakan bahwa ia mulai menulis Paperback Writer setelah membaca Daily Mail tentang seorang penulis yang berhasrat kuat. Daily Mail adalah koran langganan Lennon, dan ketika bersama Mccartney menggubah Paperback Writer di studio, tumpukan koran itu ada di dekat mereka. Dengan demikian, orang-orang mulai berpendapat bahwa Paperback Writer mengacu pada Martin Amis, novelis kebangsaan Inggris yang terkenal dengan karyanya, Money (1984) dan London Fields (1989), yang waktu itu namanya sedang mencuat di Daily Mail.

Sudut pandang lain juga membaca bahwa Paperback Writer, dalam komposisi lirik maupun lagu, didasari oleh perubahan selera antara Lennon dan Mccartney. Saat itu John Lennon bertanya-tanya mengapa suara bass di rekaman milik Wilson Pickett (musisi R&B/Soul AS) terdengar lebih unggul dibandingkan semua rekaman The Beatles. Nah, hal ini berubah dengan Paperback Writer.

“Paperback Writer adalah pertama kalinya suara bass terdengar menonjol di tengah keramaian,” jelas engineer The Beatles, Geoff Emerick. “Untuk menghasilkan suara bass yang keras, Paul memainkan gitar bass yang berbeda, Rickenbacker. Kemudian kita tingkatkan lebih jauh dengan sebuah loudspeaker sebagai microphone.”

Ternyata hasrat Lennon dan Mccartney terhadap bass dan “suara gitar yang menyala” ini bersambung pada lagu-lagu The Beatles selanjutnya. Para fans kemudian menyebut-nyebut hubungan Paperback Writer dengan “Rain”, atau bahkan “Day Tripper.” Khusus Day Tripper, lagu itu dinilai lebih memiliki kesesuaian bunyi dengan Paperback Writer. Tak heran jika kemudian ada yang berani berpendapat di laman www.songmeaning.net, “Based on a novel by a man named Lear.. Kupikir itu bisa berarti LSD, berdasarkan fakta bahwa Timmothy Lear yang banyak dikenal sebagai bapak LSD.”

Lagu Day Tripper, seperti yang dijelaskan Lennon, “Day Tripper adalah orang-orang yang pergi dalam sebuah perjalanan, kan? Biasanya dengan kapal ferry atau entah apa. Tapi jenis yang ini adalah—kau sedang menikmati hippie di akhir pekan—jelas?”

Silang pendapat pun tak kunjung berakhir. Dituturkan oleh seorang penggemar lagi mengenai sepotong lirik Based on a novel by a man named Lear di Paperback Writer itu.

“Lagu ini sebenarnya tentang seorang pria Perancis yang tak sengaja bertemu di jalan dengan John dan Paul. Pria itu berbicara dengan bahasa Inggris yang parah, sambil mengumumkan bahwa dirinya ingin menjadi “Paperback Writer.” Ia berkata, ‘based on a novel by a man named lire.’

“‘Based on’ yang ia ucapkan sebenarnya adalah bahasa Perancis, ‘fonde sur’ (berdasarkan), yang dalam bahasa Inggris berarti ‘written by.’ Kalimat yang ingin diucapkan si pria Perancis itu sebenarnya berbunyi: ‘I am the man who made this book, please read it.’ Dia mengucapkan ‘lire’, sebuah kata kerja bahasa Perancis untuk ‘read.’ Namun, John dan Paul menangkapnya bahwa itu adalah novel yang ditulis oleh seseorang yang bernama Lear.”

“Agar nuansa Perancis lebih kental, kita bisa mendengar latar suara oleh John dan George tentang sebuah lagu anak-anak Perancis, ‘Frère Jacques”, yang terdengar ‘Freeeeeh-Raaaaaaah — Shaaaaah-Gueeeeez, pada menit 1:02 lagu Paperback Writer.”

Curahan Hati Mccartney

Kreativitas pengamat maupun para fans dalam menjawab siapakah tokoh Paperback Writer yang ditulis Paul Mccartney itu memang cukup menarik. Banyak kaitan yang mereka lihat, kemudian hubungkan. Meskipun demikian, ternyata tak satu pun yang mencoba bertanya bahwa Paperback Writer yang sebenarnya adalah tentang diri pengarang itu sendiri, yakni Paul Mccartney. Saya melihat hubungan ini ketika menemukan pernyataan Paul Mccartney dalam biografinya yang ditulis oleh Barry Miles, Many Years From Now (1997).

Kata Mccartney tentang lagu-lagu The Beatles, “Kita selalu memberitahu dan memengaruhi orang dengan mengatakan bahwa kita telah membuat ratusan lagu sebelum ‘Love Me Do.’ Jika kau menulis kepada wartawan, ‘Dear Sir, kita punya sebuah lagu yang mungkin membuatmu tertarik untuk menulisnya …’ lebih baik mengatakannya dengan, ‘Kita telah menulis lebih dari seratus lagu.’

Tentunya pernyataan tersebut sangat mirip dengan lirik Paperback Writer yang berbunyi lengkap sebagai berikut:

Paperback writer…

Dear Sir or Madam, will you read my book? It took me years to write, will you take a look? It’s based on a novel by a man named Lear. And I need a job so I want to be a paperback writer… Paperback writer!

It’s the dirty story of a dirty man. And his clinging wife doesn’t understand. His son is working for the Daily Mail. It’s a steady job but he wants to be a paperback writer… Paperback writer!

Paperback writer

It’s a thousand pages, give or take a few I’ll be writing more in a week or two. I can make it longer if you like the style I can change it ’round and I want to be a paperback writer… Paperback writer!

If you really like it you can have the rights. It could make a million for you overnight. If you must return it you can send it here. But I need a break and I want to be a paperback writer Paperback writer!

Paperback writer… Paperback writer… Paperback writer

 

Pada kata-kata, It’s a thousand pages, give or take a few I’ll be writing more in a week or two… dapatlah kita lihat bagaimana Paul Mccartney memerhatikan obsesi seseorang yang sedang berusaha agar karyanya mampu menembus penerbit ataupun studio rekaman. Mccartney percaya bahwa membuatnya sebanyak mungkin adalah salah satu jalan terbaik agar karya dapat diakui oleh orang lain. Tidakkah Paperback Writer begitu mirip dengan strategi Mccartney dalam mempromosikan karya-karya awal The Beatles, bahkan sebelum Love Me Do menembus pasar?

Bagaimanapun, karya seni memang merupakan bentuk ekspresi setiap penggubahnya. Dalam pemetaan lagu The Beatles yang pernah dilakukan beberapa pihak, ditemukan setidaknya tema-tema tentang masa kanak-kanak, cinta, harapan, persahabatan, hippie, maupun obsesi. Lennon banyak membidani lagu-lagu tentang masa kanak-kanak, seperti misalnya, “Strawberry Fields Forever” atau “In My Life.” John Lennon memang cenderung memperlakukan musik sebagai penyembuhan luka masa lalunya. Di sisi lain, Mccartney lebih percaya diri dengan berbagai tema-tema harapan dan cinta yang ceria. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan di dalam setiap lirik maupun lagu The Beatles itulah jiwa Lennon-Mccartney bersemayam. Dari kecenderungan karya-karya itu pula dapat dipahami mengapa pada akhirnya mereka memilih berpisah jalan.


Leave a Reply