Menu

Posts Tagged ‘A Day In The Life’

Gropyokan Tikus Petani Klaten

February 10, 2013 |  by  |  A Day In The Life  |  ,  |  No Comments  |  Share

Di Klaten, hama tikus telah lama menjadi momok bagi para petani. Dalam setiap masa tanam ataupun panen, tikus kerap berkembang biak mengganggu sawah-sawah mereka.

Read More
Rumah Sang Kapten

The Gate of Joglo House (@bayulogii)

Rumah Sang Kapten

February 9, 2013 |  by  |  A Day In The Life  |  ,  |  1 Comment  |  Share

Sudah bertahun-tahun penduduk desa Wolanharjo mengenal rumah joglo itu.

Read More
Komunitas Punk dan Serikat Pekerja

Komunitas Punk dan Serikat Pekerja

October 9, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |   |  No Comments  |  Share

Belum lama ini kita mendengar kabar mengenai demo buruh. Mereka menuntut peghapusan sistem alih daya (outsourcing), peningkatan upah, dan jaminan kesehatan (Kompas, 4 Oktober 2012).

Memori saya sejenak kembali pada medio 2007, hari dimana saya pertama kali ikut serta dalam kegiatan aksi Hari Buruh Sedunia (May Day). Waktu itu saya baru belajar motret, dan terus terang belum banyak mengetahui tentang May Day. Oleh karena itu, alih-alih datang ke Istana Negara untuk mendukung tuntutan para buruh, saya sebenarnya malah keasyikan mencari momen terbaik untuk mendapatkan foto yang bagus.

Tapi dari dorongan mencari momen terbaik itulah saya jadi mendapatkan kesimpulan tertentu mengenai para buruh. Dalam keriuhan suasana aksi, berbagai macam atribut aliansi, saya justru melihat para buruh sibuk rekreasi ketimbang mendengarkan orasi. Banyak sekali buruh yang membawa keluarganya ikut serta, menenteng rantang, bahkan sebuah tikar yang kemudian mereka gelar di rumput hijau seberang Istana. Mereka sibuk bercengkrama, sementara segilintir aktivis berteriak menuntut hak sampai serak. Ada kesenjangan. Dan dari sana saya mulai menyimpulkan; kesenjangan itulah yang membuat gerakan buruh menjadi tumpul, tak kunjung menemukan solusi konkret atas segala tuntutan yang diutarakan.

Sinyo  

Bersamaan dengan tersiarnya kabar demo buruh 3 Oktober itu, saya sedang mengunjungi salah satu komunitas punk terbesar di Indonesia, Marjinal (Taring Babi). Bersama @Dipphotograph dan @Alcoustic, kami sedang menggarap film dokumenter mengenai komunitas Marjinal. Tak ada kesengajaan ketika kami memberikan judul film tersebut dengan nama #entrePunkneur. Ya, setelah melakukan 2-3 kali diskusi, kami akhirnya menetapkan bahwa;

Punk has been transforming itself from music genre to a cultural system that touches almost every aspect of our life. For more than five decades, punk continues to prove that they were not like many people believed; as a rebellious actions through the choices of undermine or even deviant. Punk, in this case, has become a community that led young people to the independence of production. Punk has been responding excessive consumption behavior by offering an alternative and community-based way of consumption. “Marjinal Community”, for example, not only works through the music, but also has produced many kinds of artwork, media, and technology. In this video project, we’ll try to capture DIY as a critical of mass consumption that would be alternative form of urban life circumstances.

Secara sederhana, apa yang kami ingin sampaikan dari film itu adalah semangat DIY (Do It Yourself), yang mendorong kemandirian produksi dalam komunitas Marjinal. Kemandirian ini yang kemudian mendasari lahirnya berbagai macam keterampilan dan imajinasi. Dalam komunitas Marjinal, kami melihat, sesungguhnya DIY membuat mental manusia menjadi tak mudah bergantung pada negara dan/atau industri.

Sulitkah hidup seperti itu? Pada kesempatan kedua kami bertemu dengan salah satu “penghuni” komunitas Marjinal, Sinyo (30-an) namanya. Dia yang seorang supir antar barang sebuah perusahaan menuturkan fakta bagaimana komunitas Marjinal telah memampukan mental hidupnya.

“Di sini segalanya jadi terbuka, bukan sekedar punk. Gue jadi punya banyak sampingan, nyablon balon, ngurusin acara, jualan baju, dan macem-macem,” Sinyo menjelaskan.

Sori, kerjaan gue lagi banyak, cari aja pekerja laen

Di luar dugaan, Sinyo yang seringkali dipandang sebagai manusia-manusia bertenaga kasar sehingga cenderung takluk terhadap sistem, kini mulai punya posisi tawar yang lebih meyakinkan. Ia menambahkan, “Dulu kan kita sering ditakut-takutin, ‘Awas lho, macem-macem gue pecat!’ Tapi sekarang, ya, kalo ditelpon, ‘Bisa nganter barang gak?’ gue kadang jawab, ‘Sori, gue lagi sibuk, banyak kerjaan di komunitas.’”

Lucunya, siapapun kini tak bisa melarang ekspresi rambut Sinyo yang bergaya Mohawk, bahkan petinggi perusahaan sekalipun yang sering membutuhkan jasa menyupirnya. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan oleh Sinyo tentang upah, jam kerja, atau jaminan-jaminan lain dari perusahaan. Kalau suatu hari dirinya memang dipecat, toh, di komunitas Marjinal selalu banyak peluang untuk berproduksi. Namun demikian, dituturkan oleh Sinyo, tak seorang pun di komunitas Marjinal menghendaki agar di antara mereka berhenti dari tempat kerjanya di perusahaan atau lainnya.

“Kerja ya kerja aja. Kalo masih mau, jangan dilepas,” katanya.

***

 

Selepas mendengar jawaban dari Sinyo di komunitas Marjinal tersebut, pendapat saya mengenai gerakan buruh yang tumpul semakin kuat. Entahlah, mungkin saja saya salah, mengenai serikat pekerja yang cenderung melakukan diskusi-diskusi, advokasi, dan konsolidasi aksi. Tapi saya sudah  bertanya kepada seorang teman yang banyak berpengalaman tentang dunia buruh, secara keseluruhan dia mengiyakan saya. Dalam pembicaraan itu saya menjelaskan bahwa saya tidak menolak kegiatan aksi para buruh. Apa yang saya tolak adalah menjadikan demo atau mogok kerja sebagai satu-satunya tindakan untuk menyelesaikan persoalan relasi antar buruh-industri-negara.

Saya membayangkan apabila serikat-serikat pekerja menjadi komunitas kreatif saja. Jadi, selain diskusi, mengadvokasi hak buruh, serta mengonsolidasi aksi turun ke jalan, mereka juga melakukan pertemuan-pertemuan untuk membuat karya/produk. Inilah yang primer. Sebut saja ada anggota serikat pekerja yang jago memasak, kenapa tidak dikembangkan jadi usaha milik komunitas mereka? Belum lagi ada yang bisa menjadi, misalnya, reseller baju. Setiap pertemuan serikat buruh dipenuhi dengan workshop untuk meningkatkan hard skill, atau memikirkan distribusi dan jaringan usaha yang sudah ada. Jika serikat pekerja ditransformasikan menjadi komunitas kreatif, minimal buruh bisa mengaktualisasikan dirinya menjadi karya, mendapatkan pemasukan sampingan, dan lebih berdaya secara politis. Seperti Sinyo dari Marjinal, suatu hari mereka akan bilang, “Sori, kerjaan gue lagi banyak, cari aja pekerja laen,” ketika industri dan negara kalang kabut memikirkan kantong mereka.

Ketika buruh sudah memiliki karya, kebutuhan perut sudah terpenuhi oleh sikap berbagi di dalam komunitas, tak menutup kemungkinan mereka akan datang ke lokasi demo dengan kesadaran penuh. Atau mungkin mereka tak perlu turun ke jalan menuntut negara/industri, karena hidup mereka sudah terbiasa tanpa keduanya? DIY?

 

Orang Indonesia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa pertolongan negara maupun industri

Kata Bung Karno, kita ini lebih mulia dari proletar. Kita ini Marhaen. Kita punya alat produksi untuk beri makan diri sendiri dan keluarga.

Kalau di antara kita ada yang menikah, orang sekampung bahu-membahu memasak, bikin pesta.

Jangan bawa-bawa gaya orang bule ke sini.

Orang bule hidupnya sangat bergantung pada subsidi. Mereka terbiasa menuntut gedung putih.

Kalaupun mau nuntut, orang Indonesia itu pantesnya nuntut RT, RW, dan paling tinggi ya Lurah, kata Cak Nun.

Tahukah kita dari mana Bung Karno mengambil istilah Gotong Royong? Ya, dari kebiasaan hidup bahu-membahu sekampung itu.

Jadi, daripada hidup disandarkan ke negara atau industri, sandarkanlah ia pada kampungmu, komunitasmu, niscaya kamu berdaya.     

Sekolah Untuk Pak Menteri

September 28, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |   |  No Comments  |  Share

Menteri Pendidikan Ahmad Sholeh sedang panik luar biasa. “Dunia ini benar-benar sakit…,” katanya mendesis. Di hadapannya tergeletak Harian Suara Bangsa dengan judul berita utama; KEKERASAN ANTAR PELAJAR SULIT DIHENTIKAN.

Read More

Dia Bilang, Mereka akan Jadi Mayat!

August 10, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |   |  1 Comment  |  Share

Setiap akhir pekan buruh-buruh itu mengadakan pesta di sekitar pabrik. Para pelacur berdatangan, dan mereka pun mulai mabuk sambil bertelanjang di atas koran.

Read More

Paul Mccartney, Lagu Cinta Melulu

August 8, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |  ,  |  No Comments  |  Share

1966. Dikisahkan bahwa Paul Mccartney merasa gerah dengan bibinya yang terus saja mengoceh tentang lagu-lagu cinta yang telah ia gubah. “Mengapa kau tidak pernah menulis tentang seekor kuda, atau sebuah konferensi di musim panas, atau sesuatu yang menarik?”

Read More
Bung Karno, Sebuah Kisah dari Kamar Pelacur

Bung Karno, Sebuah Kisah dari Kamar Pelacur

July 30, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |  , ,  |  2 Comments  |  Share

Ketika berbagai media Barat berebutan menghujat Bung Karno, kamar-kamar pelacur justru menjadi saksi bisu akan cinta rakyat kepadanya.

Read More
Haru Biru

Y Generation

Haru Biru “Generasi Drive Thru”

July 26, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |   |  No Comments  |  Share

Seorang ibu pernah mengeluh kepada saya. Ia mengatakan, “Repot kalau komunikasi make smartphone sama anak muda zaman sekarang. Penyampaiannya enggak efisien!”

Read More

Pratinjau Novel Tak Ada Jalan Kembali

June 13, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |  ,  |  8 Comments  |  Share

Mereka lebih suka menyewa sebuah rumah kecil dengan dua kamar dan ruang tamu yang langsung terhubung dengan ruang tengah, sering penuh telur rayap di lantainya, namun memiliki arti yang sangat penting bagi jiwa muda mereka; kebebasan.

Read More

Menyosong Tiga Dekade: Balikin Slank Kayak Yang Dulu Lagi?

May 25, 2012 |  by  |  A Day In The Life  |  , ,  |  4 Comments  |  Share

Slank, Sejak 1983

1996. Sebelum Bim-Bim benar-benar membubarkan Slank, seorang fans telah mengiriminya surat ancaman bertinta darah. Dia akan dibunuh jika Slank sampai dibubarkan.

1997. Formasi baru Slank mencatat penjualan album tertinggi lewat nomor “Balikin.” “Itu bukan lagu Slank,” demikian pernyataan fans lagi.

1998-2011. Generasi Biru semakin meluas, bendera mereka berkibar di mana-mana, dan Slank telah menjajaki pasar Amerika.

2012. Di antara Slanker Wangi yang kerap bermunculan, rock and roll flamboyan, suara-suara yang merasa kehilangan itu terus bergema, bahkan semakin mendesak, “Balikiiiiin!”  
Read More